Rekaman Pertemuan Kelima

Merangkai Bahasa Tubuh
Oleh Abdul Raufian



Dari ujung jempol kaki hingga ujung rambut merupakan rangkaian atau susunan tubuh. Setiap bagian tubuh memiliki kegunaannya masing-masing. Rambut untuk menutupi panasnya sinar matahari, mata untuk melihat, tangan untuk meraba, memegang dll. Kaki untuk berjalan dan masih banyak bagian tubuh yang lainnya. Tubuh pun mampu merespon hal-hal yang diluar dari tubuh, seperti halnya ketika salah satu bagian tubuh kita tertusuk oleh duri makan akan terasa sakit ditempat yang tertusuk tersebut, maka itu termasuk respon yang dibentuk dari luar tubuh kita. Lalu apakah tubuh kita mampu untuk tidak merespond hal tersebut? Tentu hal ini sangat bisa, kita tidak berfikir mengenai hal hal gaib yang mejurus ke dalam sebuah amalan, namun semua respond yang ada dalam tubuh kita adalah sebuah stimulus dari otak kita atau yang sering disebut suggesti, jadi respond tubuh kita itu diatur oleh pikiran kita (suggesti).


Berlatih adalah salah satu untuk dapat menghilakan respond maupun membentuk respond. Seperti latihan ekstrim yang akan kita lakukan dengan cara bertahap seperti halnya berlatih untuk menahan sakit dan membiarkan tubuh kita rela akan rasa sakit yang dibuat oleh duri, batu tajam, paku dan lain sebagainnya. Salah satu kuncinya adalah merelakan tubuh kita dan menikmatinya, jangan dirasa dan jangan ragu untuk melakukan hal tersebut, karena dalam sebuah keraguan itu lah yang membuat suggesti kita menolak tubuh kita menerima tusukan dari duri, krikil tajam, jarum, rasa dingin dam panas. Jadi relakan lah tubuh kita supaya menjadi salah satu bagian atau unsur yang sama dengan hal-hal yang disebutkan tadi.


Lalu apakah kita dapat membuat tubuh kita merespon hal-hal yang kita munculkan dalam sebuah imajinasi yang kita pikirkan dan menyesuaikan dengan apa yang hanya kita lihat dan belum kita rasakan sama.sekali sebelumnya. Seperti halnya kita memikirkan sedang berada dikutub utara yang udaranya sangat dingin, berjalan di siang hari, tanpa menggunakan baju hangat. Otomatis kita harus buat tubuh kita bergetar, dari tangan, kaki, lutut, mulut kita harus menggambarkan seperti kita sedang berjalan di hamparan es.

Dari kedua hal tersebut tubuh kita sebenarnya dapat merespon dan tidak merespond pun bisa. Dengan kekuatan pikiran kita dapat merubah 180° untuk membuat hal itu menjadi apa yang kita pikirkan.




Rangkaian inilah yang dapat disebut merangkai bahasa tubuh. Sehingga orang lain bisa tahu apa yang sedang kita respond dan apa yang sedang tidak kita respond. Dalam kajian ilmu komunikasi rangkaian bahasa tubuh merupakan bahasa non verbal yang berfungsi untuk mengekspesika, mempertegas, melengkapi dan mengefesienkan. Agar bahasa tubuh kita dapat dipahami oleh orang lain yang akan kita beri pesan maka kita harus sering menggambarkannya dan melihat disekeliling kita, karena bentuk tubuh sangat lah di pengaruhi oleh stratifikasi sosial (Tingkatan sosial) dari wilayah profesi, tingkatan pendidikan, lingkungan keluarga dan masyarakat. Bagaimana ekspresi kemarahan seseorang yang memiliki ekonomi yang rendah dengan ekspresi orang yang tikakatan ekonominya tinggi, maka si orang yang ekonominya rendah akan sangat liar, kemarahannya diluapkan melalui benda-benda yang ada disekelilingnya seperti melempar batu membawa golok dan arit. Itu lah rangkaian bahasa tubuh mereka dalam meluapkan amarah. Kemudia. Si orang kaya meluapkan kemarahannya dengan sedikit tegas, menunjuk orang si fulan dan si fulan atau pun dengan proses hukum. Inilah bahasa-bahasa tubuh yang dapat di rekam dan disaksikan dimana pun kita berada, kita pun dapat mengkomunikasikan hal tersebut melalui sebuah bahasa non verbal kepada audience untuk mengartikannya keberbagai tafsiran. Sejatinnya bahasa tubuh yang dikatakan sebagai bahasa non verbal akan memiliki multi tafsir sesuai dengan reka adegan yang dilihat oleh audience maka dari itu bahasa verbal atau kata-kata yang diucapkan pun harus sama dengan ekspresi yang digambarkan oleh bahasa nonverbal...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar