Mengulas Pertemuan Keenam

Jumat, 27 Januari 2017 (Pertemuan Keenam)
Review Pertemuan Keenam
Oleh Irma Maulani
Pertemuan ke 6 kelas Labortorium Banten Girang, membahas tentang “Kritik Pertunjukan” dengan pemateri kang Niduparas Erlang.

Teater pada mulanya adalah sebuah ritual untuk pemujaan, jika kita lihat dari kata dasarnya saja kata teater sendiri berasal dari kata theatron dari bahasa Yunani yang berarti "tempat untuk menonton" yang kemudian di adopsi sebagai sebuah pertunjukan yang digunakan untuk hiburan dan pendidikan, tidak lagi hanya untuk ritual dan berubah menjadi kesenian.

Di Indonesia sendiri teater dibedakan menjadi dua jenis ; teater tradisonal (teater rakyat) dan teater non tradisonal (modern). Teater tradisional hanya berdiri pada 1 kaki yaitu pertunjukan dan tidak menggunakan naskah, sedangkan dalam teater non tradisional semua berangkat dari naskah. Contoh teater tradisonal salah satunya adalah pertunjukan Reog, seni teater Reog ini merupakan kesenian yang berasal dari Ponorogo. Ciri khas dari seni pertunjukan Reog adalah topeng yang dikenakan oleh pemain yang berbentuk besar dan tinggi dan berwajah singa. Karena dalam pertunjukan Reog tidak terdapat dialog, maka dari itu Reog dapat juga dikategorikan sebagai salah satu seni teater tradisional yang ada di Indonesia. Dan permainan Reog ini berbentuk pertunjukan tarian yang mengandung magis karena sewaktu pertunjukan mencapai titik puncak para pemain mengalami kerasukan.


Dalam menulis sebuah “Kritik Pertunjukan” bisa dilakukan dengan menggunakan berbagai teori sastra yaitu teori sastra struktural, teori psikologi sastra, teori kepribadian Abdul Aziz Ahyadi, dan lain-lain. Juga, dalam sebuah kritik pertunjukan, si Kritikus tidak melulu mengkritik si aktor yang sedang memainkan tokoh, tetapi Musik, Artistik, Kostum dan Make Up pun bisa menjadi celah untuk di kritik.

Dalam pengembangannya. Ada dua model kritik, yakni kritik subjektif dan kritik objektif.
Kritik subjektif adalah cara orang (kritikus) membuat ulasan berdasarkan selera pribadinya. Ketika dia membuat pernyataan bahwa pergelaran teater itu jelek, alasannya bahwa dia tidak suka. Sesuatu yang bagus menurut dia adalah sesuatu yang dia sukai, bahkan membandingkan dengan karyanya. Sebaliknya ketika dia mengatakan bahwa pergelaran teater itu bagus, karena memang dia suka garapan seperti itu atau mungkin ada hubungan personal dengan penggarap, karena penggarap itu temannya, saudaranya, atau keluarganya.

Pandangan yang subjektif selalu tidak dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena ketika dia mengatakan jelek, dia tidak mampu menunjukan di mana letak kelemahannya. Begitu juga sebaliknya ketika mengatakan bagus terlanjur memiliki perasaan kagum sehingga tak mampu berkata-kata. Kritikus yang subjektif kadang-kadang punya kecenderungan berpihak pada seseorang, bukan pada karya yang ditontonnya. Tidak heran jika kritikus semacam itu akan menutup diri di luar yang dia sukai. Dalam kehidupan zaman sekarang, kritikus semacam itu diperlukan untuk mempopulerkan atau menjatuhkan seseorang dengan cara menggencarkan publikasi di mass media untuk mempengaruhi opini masyarakat tentunya dengan imbalan.



Sedangkan kritik objektif adalah kritik yang selalu mengulas karya seni tidak peduli itu karya siapa. Kritik objektif dapat disebut kritik konstruktif bertanggung jawab. Oleh karena kritikannya dinyatakan jelek, kritikus akan menunjukan di mana letaknya. Begitu juga ketika dia menyatakan bagus, harus mampu menjelaskan kenapa bagus. Karya kritik yang objektif dapat dijadikan ajang pembelajaran guna kemajuan seniman muda selanjutnya. Dengan demikian kritik objektif dapat juga dikatakan kritik membangun. Artinya dia sangat bertanggung jawab atas kehidupan kekaryaan seni terutama teater di masa datang. Kritikus ini biasanya tidak bisa diintervensi oleh siapapun apalagi disogok, karena dia tidak bertanggung jawab pada siapun kecuali pada profesinya.

Ada dua prinsip yang harus ditangkap ketika kita mengapresiasi pergelaran teater, yaitu konsep dan teknik. Konsep bagus tanpa didukung oleh kemampuan teknis yang memadai, tidak akan tercapai. Sebaliknya, jika konsepnya biasa-biasa saja, tetapi didukung oleh kemampuan teknis yang memadai, karya teater masih dapat dinikmati oleh penonton, paling tidak sebagai hiburan semata. Hal-hal yang perlu dikritisi ketika mengapresiasi pergelaran teater antara lain (1) konsep cerita dan teknis penggarapan cerita, (2) konsep dan teknis pementasan, (3) konsep dan teknik penyutradaraan, (4) konsep dan teknik permainan, (5) konsep dan teknik penggunaan properti.

Pada intinya, ulasan atau tanggapan pada sebuah kritik pertunjukan tersebut tentunya harus memiliki dasar atau argumentasi yang kuat sehingga hasil tanggapan tersebut dapat bersifat objektif dan dapat dipertanggungjawabkan. Karya teater yang akan diapresiasi biasanya dapat langsung disaksikan di gedung pertunjukkan atau tidak langsung yaitu melalui rekaman video pertunjukan teater. Teater tanpa kritik akan tetap ada, namun disangsikan.


“Menulis kritik teater adalah lebih buruk ketimbang jalan di atas telur; rasanya seperti kita jalan di atas tubuh-tubuh manusia yang hidup dan menyebabkan tubuh-tubuh itu berdarah-darah.” Eric Bentley (1958: 235)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar