Aktor dan Kesadaran Bahasa

Semacam Pendahuluan, Kawan


Dalam tulisan ini saya ingin mengungkapkan beberapa hal yang sepertinya menarik jika saya sampaikan. Pertama, disiplin keilmuan saya berbeda dengan apa yang akan saya tuliskan karena saya sendiri cenderung menggeluti keaktoran selama berkesenian. Puluhan naskah drama yang saya mainkan, baik naskah Eropa ataupun naskah berbahasa Indonesia, memberi gambaran yang sangat unik. Terutama ketika pembedahan isi dari tiap naskah itu, di dalamnya terdapat makna-makna yang tidak tunggal justru bertalian dengan disiplin ilmu lain. Seperti kajian politik, agama, ilmu pengetahuan, ilmu alam, filsafat, dll., yang menuntut saya untuk membaca hal lain juga, meski dengan alakadarnya. Semuanya itu saya lakukan untuk memberi energi dalam lingkup keaktoran yang saya geluti.

Keaktoran yang selama ini saya amati dari sejarah panjang dunia, baik di Eropa, Asia--khususnya di Indonesia, saya menemukan keaktoran itu tidak hanya cukup memainkan dengan baik segala metode/sistem/cara bermain di atas pentas. Saya mengamati bagaimana Stanislavsky dengan metode keaktorannya bisa membantu mewujudkan tokoh, namun ia semakin besar dan terasa sangat ideologis sebagai seorang aktor teater dengan cara menulis. Dia menuliskan proses pencarian keaktoranya ke dalam buku. Begitu juga Bertold Brech dengan gagasan teater dan metode keaktoran yang dia usung. Atonin Artaud, Jergy Grotowsky, Petter Brook, semua memberi khasanah yang mendalam dan berbeda-beda karena penemuan-penemuan yang mereka temukan dalam latihan dan melulu didokumentasi melalui tulisan.

Bagi saya, aktor adalah kreator. Dia seorang seniman yang sangat penting di dalam pertunjukan teater. Terlaksananya sebuah pertunjukan salah satunya dikarenakan adanya seorang aktor yang memainkan tokoh. Ia yang menyampaikan pesan, ia mengkomunikasikan seluruh isi cerita yang terdapat di dalam teks, baik verbal ataupun nonverbal.

Pemahaman teks yang mendalam akan menentukan baik dan kurangnya ia ketika ia memainkan peran di atas panggung. Karena teks yang terkandung di dalam naskah mengandung sisi kejiwaan, pola pikir, cara kebiasaan berlaku, sampai ke cara-cara menanggapi permasalahan dan menyelesaikan permasalahannya. Artinya, pembongkaran teks wajib dilakukan secara individu maupun kelompok.

Kesadaran aktor terhadap bahasa memang kurang dikumandangkan dalam pelatihan aktor, itu bisa terlacak pada teknik-teknik yang ditulis oleh para penulis metode/sistem/cara bermain /membangun peran. Mereka hanya mengungkapkan metode saja, tanpa menuliskan pentingnya bahasa.

Bahwa pemahaman bahasa akan teruji salah satunya jika ia mampu menulis. Selain pembacaan literatur lain yang memang juga akan menunjang terhadap kecerdasan seorang aktor. Terutama para aktor muda, mereka jarang sekali membuat karya lain semisal membuat naskah drama, puisi, cerpen, novel dan esai-esai keaktoran. Entah kenapa, padahal empu-empu keaktoran itu juga menulis.

Ketika para aktor hanya mengandalkan teks-teks yang ditulis orang lain, maka akan banyak muncul persoalan-persoalan lainnya. Misalnya saja ia akan mengalami ketergantungan teks, akan ada repetisi teks yang sama serta dimainkan oleh banyak aktor, kesulitan menemukan ide/gagasan, stagnasi gagasan akting, dan akan semakin melebar hal-hal lain yang kemungkinan besar berujung pada aktor membunuh karakternya sendiri.

Jika aktor mau disebut kreator di tengah kesulitan bahasa yang akan disampaikan, karena teks-teks naskah yang terus berulang, maka aktor dituntut untuk bisa menuliskan bahasanya sendiri.

Apakah masih pantas jika eksplorasi keaktorannya hanya bekutat di wilayah akting, dan ia tak mau merambah dunia bahasa yang selama ini dia geluti dengan cara hafalan-hafalan semata? Kalau begitu, jangan-jangan aktor yang hanya berkutat pada seni akting, ia hanya layak disebut sebagai player bukan sebagai kreator.

Berkaca pada tradisi keaktoran di Indonesia, terutama di Jawa Barat, sang aktor menguasai bahasa, mengusai musik, tarian, dan sadar artistik. Ia mengejawantahkan gagasannya terhadap apa yang ia lihat, dengar, rasa, raba dan cium. Teks yang dialami, dikuasai, dimiliki sepenuhnya oleh seorang aktor yang kemudian ia sampaikan kepada penonton. Aktor semacam ini akan lebih tepat disebut sebagai aktor yang ideologis, sebagai seniman, sebagai pencipta, ia tidak hanya mewujudkan peran tapi mewujudkan kesatuan pertunjukan.

Korelasi yang begitu baik antara keaktoran dan disiplin kesenian lain, terutama bahasa yang bernilai sastra, perlu digali kembali untuk mewujudkan keutuhan aktor. Karena mau tidak mau aktor harus menjadikan dialog-dialognya sebagai makanan yang sangat penting. Sedangkan untuk mengerti dialog-dialognya, aktor harus memakai kaca mata sastra sehingga pesan yang tersurat dan tersirat termaknai dan tersampaikan secara baik di atas panggung.

Sekilas Menyoal Bahasa, Mamen!


Sejarah panjang bahasa mungkin diawali sejak manusia ada di dunia. Karena keberadaannya sulit sekali terlacak, khususnya bahasa-bahasa yang sudah tua. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa keberadaan bahasa tidak juga menunjukan kurun waktu yang pasti, ia melebur dan sejalan dengan kebudayaan suatu suku tertentu. Namun pada dasarnya, bahasa difungsikan sebagai alat komunikasi untuk tujuan berbagai hal. Baik komunikasi antar manusia, alam, dan tuhan, yang pada akhirnya dengan bahasa, manusia bisa mencipta dan menghasilkan pradaban.

Bahasa dalam ruang lingkup yang luas, bisa berarti bunyi, gerak, rupa, dan bahasa yang terdiri dari kata-kata yang dipakai oleh suatu masyarakat sehingga menimbulkan makna yang dimengerti oleh kelompok atau sukunya. Bahasa juga memiliki karakter, sifat, dan fungsi sesuai perkembangan kebudayaan. Akibat dari itu, penggunaan bahasa dikelompokkan, tujuannya untuk memisahkan komunikasi. Komunikasi transcendental dan komunikasi horizontal. Komunikasi transcendental terdapat para ritual-ritual untuk penghormatan kepada alam, roh-roh, tuhan dan segala hal yang berhubungan dengan keyakinan. Sedangkan komunikasi horizontal itu dipakai sebagai media pergaulan antar manusia.

Cara dan bentuk dari kedua komunikasi itu bisa sangat berbeda. Misalnya saja, jika komunikasi dipakai oleh sesama manusia dan akan jauh berbeda dengan cara dan bentuk kumunikasi dengan alam dan Tuhan.


Aktor dan Bahasa Mantra


Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dengan kepercayaan animisme dan dinamisme, dimana roh, kekuatan alam dan tuhan menjadi bagian yang terpenting dalam kehidupan keseharian dan menempati puncak tertinggi sehingga menghasilkan bahasanya sendiri.Katakanlah mantra/do’a dalam konteks kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Indonesia mengandung kekhusuan, perlu penghayatan, dan tidak sembarang bisa menggunakannya. Ada tahapan-tahapan tertentu untuk bisa mencapai dan memilikinya. Semisal proses pencapainya dengan semedi, puasa, dan ritual-ritual tertentu untuk mendapatkan dan menggunakannya.

Bahasa mantra memiliki kesakralan tertentu jika dibandingkan dengan bahasa antar manusia yang cenderung berubah dan berkembang.Namun tidak menutup kemungkinan bahasa mantra juga berinteraksi dengan kebudayaan lain, terutama berhungan dengan kepercayaan/agama. Masuknya Hindu, Budha, Islam, Kristen, ikut membidani lahirnya kata serapan atau pengadopsian dalam bahasa mantra. Itu sebagai bukti lain bahwa bahasa mantra juga tidak statis, ia bergerak sesuai keyakinan setiap manusia yang ada di zamannya.

Pertanyaannya, apakah aktor harus bisa mantra? Sejauh aktor masih menyakini kedalaman jiwa dan fisiknya, sejauh ia ingin mengolah dan mengeksplorasi tahapan-tahapan dari keduanya, itu memungkinkan aktor modern untuk jauh lebih arif dalam menanggapi teks mantra yang kerap kali dipergunjikan. Terlepas dari itu, mantra yang dipakai oleh para aktor tradisi di Indonesia adalah sebagai bentuk penghayatan, penghormatan, ucapan syukur untuk ruh yang gaib, untuk yang merajai ruh, yang dengan cara itu bisa menjelmakan peran yang sakral dan kadang kala tidak masuk akal.

Para aktor tradisi di Jawa Barat seperti debus, lais, berokan, bringbrung, dan kesenian lain tak bisa disangkal keberadaannya, yang kadang juga menimbulkan perasaan percaya atau tidak. Namun toh, ia ada di sekitar kita. Para aktornya masih memegang teguh mantra/do’a untuk mewujudkan keseniannya. Kenapa tidak penela’ahan terhadap mantra ini diperdalam oleh aktor-aktor saat ini, karena ini juga bisa dibilang metoda mewujudkan peran.

Saya tidak bermaksud untuk menjadi seorang pakar ilmu kebatinan. Namun saya ingin merasionalisasi, dan mengaplikasikan metoda mantra ke dalam keaktoran.

Saya juga menyadari bahwa kemampuan penghayatan saya sebagai orang yang tinggal di kampung, dan sekolah di banyak tempat, mempengaruhi keyakinan yang mungkin saja tercerabut dari akarnya. Bahkan mungkin saja, saya sudah bukan bagian dari masyarakat lais, debus, berokan dll., dan mungkin saja saya tergolong sebagai manusia urban. Dimana saya sering berdiskusi dengan teman-teman tentang keberadaan ruh, dan selalu saja kami tak bisa merumuskan letak ruh ada di mana, padahal aktor tak mungkin lepas dari permasalahan ilmu kejiwaan yaitu psikologi.

Padahal, jika kita mau mengamati lebih seksama, kalau ini tidak sepadan mohon dimaafkan karena ini baru sebatas hipotesa, naskah-naskah drama itu berisi kumpulan ruh yang memiliki ciri-ciri struktur manusia yang utuh. Ia memiliki struktur kepribadian, dan ciri-ciri fisik yang bisa terlacak dari dialog-dialog di dalam naskah. Namun bedanya dia akan hidup apabila dilakonkan. Proses memasukan ruh lain kedalam diri aktor yang secara nyata memiliki struktur kepribadian, ciri-ciri fisik, cara pola pikir yang berbeda. Sebagai orang Timur, apakah sebaiknya perlu pamit dan amit pada diri kita yang telah lama didiami oleh ruh kita?

Saya rasa perlu ada prosesi yang lebih arif dalam menanggapi hal ini, dengan penghayatan, dengan penghormatan, dll., untuk saling jaga, supaya tidak terjadi hal yang chaos di dalam jiwa seorang aktor.

Pendekatan metode mantra untuk mencapai kesatuan tokoh, dan penokohan sepertinya perlu dialami. Artinya, mantra mesti digali untuk memberikan dampak yang luar biasa pada seni keaktoran. Pada teater, pada sistem pembelajaran di kampus seni, bahkan pada sistem keaktoran dunia.

Nyosss! Aktor dan Bahasa Pergaulan


Katakanlah bahasa yang digunakan oleh manusia disebut bahasa pergaulan, dimana penggunaannya pun bertalian dengan nilai, martabat, dan keangungan. Tujuan penggunanya adalah suapaya bahasa sejalan dengan nilai-nilai, bahasa dituntut oleh sistem nilai yang dianut, sehingga penggunaan bahasa terbagi lagi misalnya untuk orang tua/yang dihormati, sesama teman, dan anak-anak.

Bahasa pergaulan, khususnya di Indonesia, menjadi hal yang sangat penting. Karena Indonesia memayungi hampir 750 bahasa daerah, baik yang dipakai ataupun yang sudah punah. Dan itu menjadi salah satu tolok ukur dalam rancangan berdirinya sebuah bangsa. Karena saking banyaknya bahasa, maka bahasa jadi hal urgent yang nantinya bisa menimbulkan perpecahan dan konflik-konflik tertentu yang berhubungan dengan suku/ras. Oleh sebab itu, perlu perumusan terkait bahasa sebagai alat pemersatu dari ratusan jumlah suku yang ada di Indonesia. Maka, lahirlah bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, bertepatan dengan lahirnya Sumpah Pemuda.

Kelahiran bahasa Indonesia yang banyak sekali mengandung serapan-serapan bahasa daerah, terutama bahasa melayu dan suku-suku lainnya, sempat mengundang tanggapan-tanggapan yang berujung pada polemik kebudayaan. Polemik itu ditandai oleh bentuk-bentuk pencarian yang menginginkan bahasa Indonesia harus benar-benar terlepas, dan berdiri sendiri sebagai bahasa mandiri, tanpa campur tangan bahasa daerah. Karena menurut sebagaian ahli bahasa, bahasa Indonesia yang masih direcoki bahasa daerah akan benar-benar mempengaruhi pola pikir yang nantinya mengimbas pada tatanan ketatanegaraan dan karakter bangsa. Pengertian semacam itu didapat oleh para ahli bahasa pada zaman itu yang notabene jebolan sekolah Belanda yang cenderung kebarat-baratan. Tokoh paling ngotot pada pernyataan itu adalah Sutan Takdir Alisyahbana dengan kelompok Balai Pustaka. Berbeda dengan Sanusi Pane, bahwa bahasa Indonesia harus memiliki kekhasan dengan bahasa-bahasa lain, dengan mengacu pada keberagaman budaya dan bahasa yang terdapat di Indonesia. Karena menurutnya, keberagaman bahasa itu memperkaya daya ungkap yang berbeda-beda namun satu tujuan juga.

Gerakan kebarat-baratan bahasa diejawantahkan melalui karya-karya sastra; puisi, cerpen, novel, dan naskah drama, juga pada penerjemahan-penerjemahan karya sastra yang bersumber dari Barat.
Kebijakan pemerintah sangatlah berpengaruh terhadap keberadaan bahasa dalam payung Negara. Karena Negara yang baru berdiri biasanya ingin ikut ambil bagian dalam keberlangsungan pewarisan budaya. Salah satunya, bahasa yang nantinya akan diajarkan di sekolah-sekolah dasar, menengah, dan pergurun tinggi. Peran bahasa akan membentuk karakter bangsa.

Katakanlah sastra, sastra di Indonesia terbagi menjadi dua yaitu sastra lisan dan tulisan. Sastra lisan biasanya ada dan berkembang di kalangan masyarakat biasa (petani dan nelayan), khususnya di Indonesia. Banyak sekali mitos-mitos yang berkembang dan tidak dicatatkan. Sedangkan sastra tulisan, berkembang di kalangan keraton yang memang terdidik secara baik, dan sadar akan pentingnya tradisi tulis, yang pada awalnya difungsikan untuk membantu pencatatan ketatanegaraan.

Dari sanalah bahasa terus-terusan dipakai dan dicari untuk pengungkapan-pengungkapan dirinya, dan dari itu kita bisa mendapatkan gambaran kongkrit tentang sistem nilai dan lain sebagainya. Salah satunya dengan menelusuri simbol-simbol, metafora atau kiasan yang dipakai dalam karya-karya sastra yang dihasilkannya.

Polemik kebudayaan, prahara kebudayaan dan reformasi kebudayaan menentukan gagasan bahasa.

Peristiwa-peristiwa semacam itu perlu perbandingan untuk mengasah keyakinan aktor terhadap bahasa. Karena aktor akan terus-terusan bergaul dengan bahasa, dia harus mengerti sastra. Menurut saya aktor tanpa mengerti sastra, dia hanya menghafalkan dialog-dialog saja.


Pamungkas


Aktor dan bahasa pada dasarnya tidak bisa dipisahkan. Karena itulah yang akan terus digauli, selama ia bergaul dengan pencarian peran. Bahasa yang kemudian membukakan pemahaman terhadap isi dari naskah itu. Bahkan mungkin saja bahasa memberikan metode baru, cara pencarian baru dengan menganalisa kembali bahasa mantra yang digunakan oleh para aktor tradisi dalam membangun tokoh.

Kearifan lokal semestinya memberikan kekayaan yang luar biasa pada pembentukan karakter. Namun sayang sekali, di negeri ini, bahwa sistem pendidikan terutama pendidikan seni khususnya keaktoran lebih banyak mengadopsi ilmuan yang datang dari barat.

Oleh sebab itu, saya bermaksud menggali kembali metode dan cara para aktor tradisi menghadapi tokoh yang akan dimainkan, selain itu juga mereka tidak hanya berfokus pada kesadaran untuk akting saja kadang mereka sambil memainkan alat musik, menari, bernyanyi, dll.

Mudah-mudahan hal itu mengingatkan saya khususnya, untuk tak perlu jauh-jauh menggapai berbagai metode keaktoran ke belahan dunia yang jauh, padahal metode itu ada di halaman rumah kita. [*]


Peri Sandi Huizche, Fasilitator Teater di Laboratorium Banten Girang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar